Postingan

Menampilkan postingan dengan label waktu yang berdetak

KISAH BUTIRAN WAKTU

Gambar
Darah dan Airmata.. Kedua laki laki muda berbadan kurus kering nampak berjalan tertatih tatih di tengah hutan yang gelap, gerimis berjatuhan didedaunan masa lalu dan kilatan petir seperti amarah dibelakang mereka. Terlihat jelas salah seorang memapah yang lain yang nampak terluka parah. Pakaian mereka yang berkilau basah terlihat compang camping. Namun sepasang kaki kaki tanpa alas itu terus menapak ketanah berlumpur. Kisah butiran waktu "Yusuf, bertahanlah. Yusuf!!" teriak pemuda berperawakan jangkung berambut cepak yang sedang memapah temannya yang tampak terluka parah "Tentara Jepang itu tidak akan berhenti mengejar dan mencari kita" Tapi tenaga Yusuf temannya berambut hitam ikal dan gondrong itu terlihat semakin melemah. "Aku tak kuat, kaki dan pinggulku sakit" keluh pemuda usia 18 tahun dan berhidung mancung itu lirih. Isa, mencari pohon besar yang terlindung belukar dan menurunkan tubuh Yusuf. Tubuh itu disandarkan kepohon pulai besar. Diantara kilat...

Waktu Yang berdetak (bagian pertama)

Gambar
BAGIAN I: KELUARGA DI DESA Dimasa penghujung masa remajaku saat masih berusia 19 tahunan, aku hidup disebuah desa yang terletak ditepi sungai gaung, sebuah desa dengan gambaran kritis; air tawar berwarna cokelat teh mengalir dari hilir ke hulu untuk menaikan pasang dan sebaliknya jika sudah sampai kehulu akan kembali mengalir kehilir dan air sungai akan menjadi surut, ketika surut nampak lumpur berwarna abu abu keputih putihan diantara tanaman bakung terapung yang kandas diatasnya, perahu perahu yasng tertambat miring dan kandas dantara batang batang yang sengaja di sorong ketengah oleh penduduk yang suka mendirikan rumah ditepiannya. Setiap rumah memiliki pelantar yang berfungsi sebagai dermaga untuk menambatkan perahu perahu mereka. Aku melewati setiap musim, membantu orangtuaku bertani dan melintasi sungai menuju ke kebun kebun kelapa dengan mendayung atau mengayuh perahu, jika musim panas pasang surut air menjadi ekstrem, sungai seolah kering, tidak mudah melewati anak anak sungai...

Aku pernah hidup separoh hati (bagian kelima)

Gambar
PADA DESEMBER YANG KELABU. "Wardi kamu tau berita terbaru?" tanya Hartini seraya duduk disampingku diteras mess dilantai dua memandang pas dimana warung kakaknya Ros berdiri dibawahnya. Aku menggelengkan kepala menoleh kepadanya, "berita terbaru apa ya?" tanyaku ingin tahu. "Perhatikan warung itu tutup, kamu tidak perhatikan wajah Bayu yang muram dan tidak menyapa siapapun seperti biasanya?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala lagi. "Ros hamil" katanya setengah berbisik. Mataku terbelalak. "Bukan sama Bayu, tapi sama abang iparnya yang suami kakaknya itu" katanya. "satpam itu?" Hartini mengangguk dan pergi karena dipanggil oleh kakaknya dari dalam ruangan mess. Dan aku terkejut mendengar itu. Tak berapa lama Hartini muncul lagi sambil mengenakan pakaian seragam kerja elektroniknya. "Itu prahara," kataku kepadanya. "Lalu bagaimana selanjutnya?" Hartini menyentuh pundakku dengan lembut, seperti biasa dia meman...